Ciamis – Sebanyak 49 calon mahasiswa asal Indonesia kini tengah menapaki salah satu tahapan penting menuju Universitas Al-Azhar, Kairo. Mereka mengikuti Ujian Penyetaraan Ijazah (Mu’adalah) Al-Azhar yang digelar di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis pada Kamis, 16 Oktober 2025.
Ujian ini bukan sekadar formalitas. Hasilnya menjadi penentu apakah mereka layak melanjutkan pendidikan di universitas Islam tertua dan paling bergengsi di dunia tersebut.
Dalam proses panjang ini, Afwaja Center mengambil peran penting sebagai fasilitator utama. Para peserta menjalani masa karantina dan pembinaan intensif di Pondok Pesantren Shibghotul Azhar Asy-Syarif, Ciamis, sebagai persiapan menghadapi ujian bahasa dan materi keislaman yang dikenal sangat ketat.
Langkah strategis ini menjadi bukti nyata komitmen Afwaja Center dalam membuka jalan bagi generasi muda Indonesia untuk menuntut ilmu di pusat peradaban Islam dunia.
“Untuk bisa diterima sebagai mahasiswa baru di Universitas Al-Azhar, calon mahasiswa wajib memiliki ijazah yang setara dengan SMA Al-Azhar di Mesir. Nah, ujian Mu’adalah inilah yang menjadi pintu utama menuju ke sana,” jelas Ustaz Yumna Ilahi, Lc., Ketua Yayasan Afwaja Center.
Afwaja Center Hadir di Ciamis: Kolaborasi untuk Akses Pendidikan Global
Hadirnya Afwaja Center di Kabupaten Ciamis bukan tanpa alasan. Daerah yang dikenal sebagai kota santri ini memiliki potensi besar dalam melahirkan generasi berilmu dan berakhlak. Melihat semangat tersebut, Afwaja Center menjalin kolaborasi dengan pesantren dan lembaga pendidikan lokal untuk memperluas akses pendidikan luar negeri, khususnya ke universitas-universitas Islam ternama dunia seperti Al-Azhar Kairo.
Afwaja Center tidak hanya berperan sebagai konsultan pendidikan, tetapi juga pendamping akademik dan spiritual bagi para santri yang bercita-cita melanjutkan studi ke Timur Tengah. Melalui program karantina, pembinaan bahasa Arab, dan fasilitasi administrasi keberangkatan, Afwaja Center berupaya menghadirkan sistem yang terpadu dari tahap persiapan hingga pemberangkatan.
“Kami ingin agar pelajar Ciamis dan sekitarnya punya peluang yang sama dengan daerah lain untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Kehadiran Afwaja Center di sini adalah bentuk komitmen kami untuk berkolaborasi dan membantu masyarakat Ciamis mewujudkan impian itu,” tutur Ustaz Yumna.
Bahasa Arab, Gerbang Awal Menuju Kairo
Sebelum sampai ke tahap Mu’adalah, setiap peserta harus menempuh perjalanan akademik yang tidak mudah. Mereka diwajibkan menuntaskan pembelajaran bahasa Arab minimal hingga level Mutawassit Tsani, atau idealnya Mutaqaddim Awwal, dari total enam tingkatan program bahasa yang disusun secara sistematis.
Setelah lolos uji kemampuan bahasa, para peserta kemudian mengikuti Daurah Tahiliyah, yaitu kursus daring selama satu bulan yang langsung dipandu oleh pihak Al-Azhar di Mesir. Program ini menjadi bekal penting sebelum ujian penyetaraan resmi dilaksanakan.

“Ujian Mu’adalah ini adalah tahapan akhir dari rangkaian panjang proses persiapan. Tanpa kelulusan dari sini, mereka belum bisa melangkah ke tahap pembuatan visa dan keberangkatan ke Mesir,” ujar Ustaz Yumna menambahkan.
Antusiasme Tinggi dari Seluruh Indonesia
Peserta ujian kali ini datang dari berbagai lembaga dan pesantren di tanah air — di antaranya Neil Edu, An-Nahdah, Al-Azhar Pare, hingga Helwa Center Depok. Jumlah peserta yang mencapai 49 orang ini menunjukkan betapa tingginya semangat pelajar Indonesia untuk menimba ilmu di Al-Azhar.
Proses selanjutnya, kata Ustaz Yumna, bergantung pada hasil kelulusan dan proses administrasi visa. “Jika semua berjalan lancar, insyaAllah keberangkatan diperkirakan pada awal Desember. Namun kami masih menunggu hasil resmi dan penerbitan visa dari pihak berwenang,” jelasnya.
Harapan Besar untuk Masa Depan Pendidikan Islam Indonesia
Menutup penjelasannya, Ustaz Yumna menyampaikan rasa syukur dan harapannya terhadap kerja sama yang terus terjalin dengan pihak Universitas Al-Azhar.
“Kami berharap sinergi ini terus berkembang, agar semakin banyak pelajar Indonesia — khususnya dari daerah seperti Ciamis — yang mendapatkan kesempatan emas untuk belajar langsung di Kairo, pusat ilmu dan peradaban Islam dunia,” pungkasnya.

